Gratiagusti Chananya Rompas: The God of Small Things

Saturday, October 21, 2017


sebuah Sore yang Sureal. ketika Sinar Matahari jatuh seperti selendang tembus pandang━mengingatkanku akan Lipstik dan Cat Kuku Fuchsia Ibuku. Es Krim Stroberi. Rok Tutu. dan Ciumanmu, tentunya. Ciuman mesra pada bibir dan pipiku. Basah tetapi Manis seperti Permen.

aku merindukanmu. rasanya seperti ada Balon Ulangtahun. membengkak perlahan di dalam dada. Sensasinya nyaris tak tergambarkan: seperti sebuah Harapan limbung━aku terbelah antara Senang karena si Balon hampir sempurna dan Cemas kalau-kalau Balon itu pecah sebelum benar-benar mengembang.

sebuah Perasaan yang Tidak Nyaman sebenarnya. seakan-akan dunia dan gelagat alamnya dapat mendengar pikiranmu: bersekongkol untuk menentukan apa yang akan terjadi padamu berikut. membuatmu tak berdaya seperti Bulu yang Melayang-layang.

tapi Yang Paling Tak Tertahankan adalah mengetahui bahwa tak seorang pun, terlebih-lebih kamu, mengetahui Kemelut di dalam Benakku dan Mantra Aku-Cinta-Kamu yang sambung-menyambung di dalam kepala.

aku membayangkan apakah kamu pernah seperti ini. aku bahkan membayangkan apakah ada secuil Kemungkinan dirimu pernah merasakan Hal yang Sama terhadapku. ah, padahal aku tahu itu hanyalah Fantasi Kacangan.

aku pun menyerah. kuhapus semua Angan. kuhapus kamu. kukunci dari Saraf-Saraf Otakku.

aku menyalakan tivi.

Program Berita.

di luar, semesta menjadi gelap. dan menjadi Nyata.

You Might Also Like

0 comments

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe